Dari Musala Madania, Menebar Hikmah - Khultum Setelah Salat Zuhur
Di tengah aktivitas pembelajaran sehari-hari, ada sebuah momen sederhana di Sekolah Madania Makassar yang menghadirkan suasana penuh makna. Setelah menunaikan salat Zuhur berjamaah di musala sekolah, para siswa meluangkan waktu sejenak untuk mengikuti khultum atau kuliah tujuh menit, yaitu ceramah singkat yang disampaikan secara bergantian oleh siswa.
Musala pun menjadi ruang belajar yang berbeda. Di hadapan teman-temannya, para siswa berlatih menyampaikan pesan-pesan kebaikan dengan penuh keberanian. Dengan mikrofon di tangan dan perhatian para jamaah yang tertuju kepada mereka, setiap siswa memperoleh kesempatan untuk berbicara, berbagi pengetahuan, serta saling mengingatkan tentang nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar Menyampaikan Kebaikan
Khultum bukan sekadar kegiatan berbicara di depan banyak orang. Bagi siswa Madania, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk menumbuhkan keberanian, membangun kepercayaan diri, dan mengasah kemampuan berkomunikasi.
Ada siswa yang menyampaikan khultum dari balik mimbar. Ada pula yang berdiri sederhana di hadapan jamaah sambil memegang mikrofon dan berusaha menyampaikan materi yang telah dipersiapkan.
Setiap penampilan menjadi pengalaman berharga. Para siswa belajar membuka pembicaraan, menyampaikan pesan secara jelas, menjaga sikap saat berbicara, hingga menutup ceramah dengan baik.
Melalui proses tersebut, mereka mengembangkan keterampilan yang penting, mulai dari keberanian tampil di depan umum hingga kemampuan berkomunikasi dan kepedulian untuk berbagi kebaikan dengan orang lain.
Ketika Teman Menjadi Pendengar
Pembelajaran tidak hanya berlangsung bagi siswa yang menyampaikan khultum. Para siswa yang duduk sebagai jamaah juga memiliki peran penting. Mereka belajar menyimak, memberikan perhatian, dan menghargai teman yang sedang berbicara di hadapan mereka.
Suasana ini menghadirkan pengalaman belajar yang melengkapi pembelajaran di dalam kelas. Seorang siswa belajar berbicara, sementara siswa lainnya belajar mendengarkan. Keduanya sama-sama mengembangkan keterampilan sosial dan sikap saling menghargai.
Dari kegiatan sederhana ini, tumbuh kebiasaan untuk saling menghormati, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan belajar bersama. Sebab, kemampuan mendengarkan dengan baik merupakan bagian penting dari komunikasi dan pembentukan karakter.

Dari Pesan Singkat Menjadi Kebiasaan Baik
Beragam tema yang disampaikan dalam khultum menjadi pengingat tentang nilai-nilai yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kejujuran, rasa syukur, menghormati orang tua dan guru, menjaga perkataan, menyayangi sesama, disiplin dalam beribadah, serta membiasakan diri untuk berbuat baik menjadi contoh pesan yang dapat direnungkan bersama.
Meskipun hanya berlangsung beberapa menit, pesan-pesan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bahan renungan sesaat. Nilai-nilai kebaikan itu diharapkan dapat diterapkan dalam berbagai lingkungan, mulai dari musala dan ruang kelas hingga rumah dan kehidupan bermasyarakat.
Inilah salah satu makna penting kegiatan khultum: mendorong siswa untuk tidak hanya memahami nilai-nilai kebaikan, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam tindakan nyata.
Musala sebagai Ruang Bertumbuh
Musala Sekolah Madania Makassar bukan hanya menjadi tempat untuk melaksanakan ibadah. Di tempat ini, siswa juga memperoleh kesempatan untuk belajar tentang tanggung jawab, keberanian, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.
Setelah salat Zuhur, di tengah suasana yang tenang, beberapa menit dimanfaatkan untuk mendengarkan pesan kebaikan yang disampaikan oleh teman sendiri. Pembicara dan pendengar berada dalam posisi yang setara: sama-sama siswa yang sedang belajar, mengembangkan diri, dan bertumbuh bersama.
Setiap siswa yang tampil memiliki pengalaman tersendiri. Ada yang mungkin masih merasa gugup, ada yang sedang belajar mengatur suara dan menyusun kata-kata, dan ada pula yang mulai tampil dengan lebih percaya diri. Setiap tahap merupakan bagian berharga dari proses belajar.
Melalui kesempatan yang diberikan secara bergantian, siswa dapat belajar bahwa keberanian tidak selalu hadir sejak awal. Keberanian tumbuh melalui latihan, pengalaman, dan kesempatan untuk mencoba.
Menumbuhkan Generasi yang Berani dan Berkarakter
Pendidikan sejatinya tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan juga berperan dalam membentuk pribadi yang berkarakter, bertanggung jawab, berani menyampaikan pendapat, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Melalui kegiatan khultum setelah salat Zuhur, siswa Madania mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan berbicara sekaligus belajar mendengarkan. Mereka berlatih menyampaikan pesan kebaikan sekaligus membuka diri untuk menerima nasihat dan mengambil hikmah dari orang lain.
Dari musala Madania, tumbuh pengalaman-pengalaman sederhana yang bermakna. Dari khultum yang berlangsung singkat, terasah keberanian untuk tampil. Dan dari pesan-pesan kebaikan yang disampaikan antarsiswa, diharapkan tumbuh kebiasaan untuk terus berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, pendidikan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang dipelajari, melainkan juga tentang nilai-nilai yang tumbuh dalam diri dan tercermin melalui tindakan.
Penulis: Pak Azis (Agm)