Image

Mewujudkan Kepemimpinan Kolaboratif Berdampak : Perjalanan Bakti Desa dan Latihan Dasar Kepemimpinan di Desa Panaikang, Kabupaten Gowa

Ada perjalanan yang tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga memberikan pelajaran yang mungkin tidak akan ditemukan di dalam ruang kelas.


Kemarin, siswa-siswa SMP MADANIA Makassar melaksanakan rangkaian kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) dan Bakti Desa di Desa Panaikang, Kota Malino Kabupaten Gowa. Kegiatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Bukan sekadar perjalanan keluar dari sekolah, tetapi sebuah kesempatan bagi siswa untuk belajar memimpin, berbagi, berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus mengenal kehidupan desa secara lebih dekat.

 

Belajar Demokrasi melalui Pemilihan Ketua OSIS

Rangkaian kegiatan kepemimpinan juga diisi dengan kegiatan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS yang baru.


Pemilihan dilakukan dengan cara pemungutan suara secara langsung. Para siswa diberikan kesempatan untuk menentukan pilihan mereka dengan menyoblos foto pasangan calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS di dalam bilik suara.


Suasana pemilihan terasa berbeda dari kegiatan sekolah pada umumnya. Siswa belajar bagaimana menggunakan hak pilih, mengenal para calon, menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan mereka sendiri, kemudian melakukan proses pencoblosan secara tertib dan bertanggung jawab.


Kegiatan sederhana ini menjadi pembelajaran nyata mengenai demokrasi, tanggung jawab, kejujuran, dan menghargai pilihan orang lain. Siswa tidak hanya belajar tentang demokrasi melalui teori, tetapi mengalaminya secara langsung.


Bagi para calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS, proses ini juga menjadi pengalaman penting untuk belajar menerima kepercayaan, menjalankan tanggung jawab, serta siap menerima hasil pemilihan dengan lapang dada.


6aa0fae734199.jpg


Berbagi Ilmu di Sekolah Dasar Inpres Desa Panaikang


Salah satu kegiatan utama dalam bakti desa adalah kunjungan ke sekolah dasar di desa. Siswa SMP tidak hanya datang sebagai tamu, tetapi mengambil peran sebagai kakak yang berbagi ilmu kepada adik-adik mereka.


Mereka melakukan presentasi tentang numerasi kepada siswa SD. Di sini, para siswa SMP belajar bahwa menyampaikan ilmu kepada orang lain membutuhkan keberanian, komunikasi yang baik, kesabaran, dan kemampuan memahami orang yang sedang diajak belajar.


Melihat siswa SMP berdiri di depan siswa SD, menjelaskan materi, menjawab pertanyaan, dan berinteraksi dengan penuh semangat menjadi salah satu momen yang membanggakan. Mereka belajar bahwa ilmu yang dimiliki akan menjadi lebih bermakna ketika dapat dibagikan kepada orang lain.


6aa0fb222bbf9.png

Berbagi Alat Tulis dan Membangun Pojok Baca


Kegiatan siswa SMP tidak berhenti pada berbagi ilmu. Tetapi juga membawa alat tulis untuk dibagikan kepada siswa SD.


Mungkin bagi sebagian orang, alat tulis hanyalah benda sederhana. Namun, bagi seorang anak yang sedang belajar, sebuah pensil, buku, atau perlengkapan sekolah dapat menjadi bagian kecil dari perjalanan mereka dalam meraih cita-cita.


Siswa SMP MADANIA juga membuat pojok baca di setiap kelas, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Pojok baca tersebut diharapkan dapat menjadi ruang sederhana yang membuat anak-anak semakin dekat dengan buku dan semakin tertarik untuk membaca.


Bagi siswa SMP, kegiatan ini menjadi pelajaran penting tentang kepedulian. Mereka melihat secara langsung bahwa membantu orang lain tidak harus selalu dalam bentuk sesuatu yang besar. Hal-hal sederhana yang dilakukan dengan tulus dapat memberikan manfaat yang berarti.


6aa0fb5288aea.png


Belajar dari Alam Desa


Setelah kegiatan di sekolah dasar, perjalanan berlanjut dengan mengeksplorasi kehidupan Desa Panaikang.

Siswa SMP berjalan menyusuri desa dan menikmati suasana di bawah kaki gunung. Jauh dari suasana perkotaan, siswa dapat merasakan udara yang lebih segar, melihat lingkungan yang masih asri, serta menikmati keindahan alam secara langsung.


Salah satu pengalaman yang paling berkesan tentu saja adalah mandi di sungai.


Bagi anak-anak, bermain dan mandi di sungai mungkin terlihat sederhana. Namun, justru dari pengalaman sederhana itulah muncul tawa, kebersamaan, dan cerita yang akan mereka ingat. Mereka belajar menikmati alam sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan yang telah memberikan banyak hal bagi kehidupan.


Belajar dari Kehidupan Masyarakat


Hal menarik lainnya adalah kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan warga desa.


Kami ikut bersama warga memilah cengkeh. Dari kegiatan tersebut, siswa melihat bagaimana hasil alam yang selama ini mungkin hanya mereka kenal sebagai rempah-rempah ternyata melalui proses panjang sebelum dapat digunakan dan memiliki nilai ekonomi.


Siswa juga mendapatkan kesempatan untuk belajar membuat dodol bersama warga desa.


Pengalaman ini menjadi pembelajaran yang berbeda. Mereka tidak hanya melihat prosesnya, tetapi ikut terlibat, mencoba, bertanya, dan berinteraksi dengan masyarakat. Dari sini, siswa belajar menghargai pekerjaan, keterampilan, dan tradisi yang dimiliki masyarakat desa.


Pulang Membawa Cerita dan Pelajaran


Perjalanan ke Desa Panaikang mungkin hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Namun, pengalaman yang diperoleh siswa jauh lebih panjang dari sekadar waktu perjalanan itu sendiri.


Mereka pulang membawa cerita tentang bertemu adik-adik SD, berbagi alat tulis, membuat pojok baca, mengikuti pemilihan OSIS, berjalan di kaki gunung, bermain di sungai, memilah cengkeh, membuat dodol, dan tentu saja tentang kebersamaan bersama teman-teman.


Siswa belajar melalui pengalaman langsung seperti ini adalah sesuatu yang sangat berarti. Sebab pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang mampu dihafalkan siswa. Pendidikan juga tentang bagaimana mereka berani tampil, mau berbagi, mampu bekerja sama, peduli kepada orang lain, menghargai masyarakat, memahami demokrasi, dan mampu melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.


Desa Panaikang mengajarkan satu hal sederhana: terkadang, pelajaran terbaik justru ditemukan ketika kita keluar dari ruang kelas.


Semoga kegiatan ini tidak hanya menjadi kenangan bagi siswa, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk tumbuh menjadi generasi yang berilmu, mandiri, peduli, demokratis, dan memiliki jiwa kepemimpinan.


Belajar, berbagi, memimpin, dan bertumbuh—itulah cerita SMP Madania di Desa Panaikang.


Penulis : Pak taufiq (kom)

Loader GIF